Di komandani seorang Aragones yang bijaksana dan percaya diri. Skuad pun dihuni pemain-pemain klub-klub terbaik dunia seperti Real Madrid, Valencia, Barcelona, Liverpool dan Arsenal. Hampir disetiap lini memiliki kesolid’an yang merata. Kolektifitas yang mengesampingka ego pribadi. Skill individu yang luar biasa, usia rata-rata termuda ketiga dari semua peserta Euro, serta mental juara. 22 kali tak pernah kalah, termasuk 6 kali bermain sempurna menumbangkan Rusia, Swedia, Yunani, Italia, Jerman, dan hingga akhirnya mencapai puncak kejayaan dengan mengukir sejarahnya sendiri.
Selamat bagi sang kampiun yang membuktikan bahwa kejayaan bukanlah hasil dari keberuntungan dan tradisi nenek moyang. Bahwa upaya taktis, kerja keras, dan optimisme adalah memang skenario untuk meraih puncak kesuksesan. Yah…takdir memang butuh skenario.
Seorang bertanya, mengapa harus susah payah dengan menjalani berbagai proses panjang berliku hanya untuk mendapatkan sebuah piala ? Sudah.Beli saja piala dan medali emas, ukir nama-nama kaps di monument, tidak perlu capek-capek dan susah payah main yang pake resiko segala !
Kita mengatakan beli saja piala dengan uang, kenapa harus capek, resiko cedera, dihujat dan dipecundangi jika kalah. Sama dengan waktu aku mendengar seorang mengatakan, “ah, biar sajalah aku berapapun bayar orang, yang penting aku skripsi selesai dan lulus membanggakan “. Sama dengan waktu para koruptor memikirkan, “suap saja anggota-anggota DPR sono biar urusan licin…”
Ketika salah satu dari kita membantahnya, kita juga mudah saja mengatakannya, “ah, yang penting piala kan ? lulus kan ? selesai kan ? “ . It’s so amazing the deep thinking of foolish people !
Hidup adalah perjuangan ! Apalagi yang lebih penting ? Kesuksesan ? Kejayaan ? Kemenangan ? Tidak ! itu sama sekali hanyalah dampak dan akibat yang akan mengikuti dari sebuah perjuangan. Bahkan Allah lebih menghargai upaya kerja keras manusia ketimbang hasil yang dicapainya. Hasil itu perlu. Tapi bekerja lebih dulu itu bukankah lebih penting lagi ? mana ada keberhasilan diperoleh dari angan-angan belaka ? mana bisa merasakan suka cita jika tidak pernah merasakan penderitaan dan pengorbanan yang begitu panjang ? Aku ingat dengan semboyan mapala di SMA ku dulu, “semakin menderita semakin bahagia…”. Sungguh dalam filosofinya, tapi menurutku tujuan juga sangatlah perlu..
Dan apa tujuan dari perjuangan kita ? Apa seharusnya motivasi itu ?
Seorang muslim harusnya tak berpikir seperti itu ! Seorang muslim harusnya punya kepala yang isinya suatu yang hanya maha dashsyat saja ! Karena surga tak bisa dibeli dengan uang, itu saja !