Demi Bola Hingga Ajal Menjemput

Innalillahi wa innaillaihi raji’un…
Aku memang tak tahu persis detail kejadiannya. Tapi waktu kematiannya itu yang mampu membuatku mengira-ira. Waktu kekalahannya dengan malaikat maut yang persis tepat waktu dengan peluit akhir tanda kekalahan Garuda Muda di final sepakbola Sea Games 2011. Ya, semua berakhir dramatis begitu saja…dua takdir di dua tempat berbeda karena sebab yang sama : si Kulit Bundar…!
Dia adalah tetangga dan sekaligus teman masa kecilku. Sangat gila bola, sangat ambisius menjadi pemain bola. Banyak orang bilang kalau sebenarnya dia berbakat. (Seingatku, dulu ia juga pernah masuk koran ketika menjadi pemain junior di klub kota Solo). Ambisi itu membuat fisiknya yg kurang mendukung menjadi sasaran beraneka macam obat-obatan peninggi badan tanpa petunjuk tepat dari seorang ahli medis pun. Akibatnya, di usia yang seharusnya ia bisa menjadi pemain hebat ia malah collapse..ternyata ginjalnya sudah rusak parah ! di usia nya yang baru 20 tahun, ia harus berhenti total dari sepakbola, lalu diharuskan cuci darah dua kali seminggu di usianya yang ke – 22..

****
Itulah takdir. Sempat dia gembira sekali di akhir-akhir menjelang detik terakhirnya kalau aku juga menyukai Liverpool..klub yang menjadi idolanya sejak pertama kali ia kenal sepak bola. Memang kuakui aku tak terlalu mengenalnya secara mendalam, tapi ku pikir…hidupnya semata hanya untuk bola (sedih mengetahui hal ini).
Jadi ingat status FB terakhirnya…status dukungan buat the Anfield Gank yang mengalahkan Chelsea di Stamford Bridge. Mungkin juga kebahagiaan karena tim idolanya yang menang itu yang memperpanjang hidupnya satu hari lagi…dan baru lah kekalahan timnas Indonesia yang benar-benar membuat dadanya sesak dan makin mempermudahkannya untuk meninggal dunia dalam keterkejutan dan kekecewaan yang mendalam…Innalillahi wa innaillaihi raji’un…selamat jalan kawan…

****
Kawan, hidup itu adalah harta karun..bukankah tak penting seberapa lama kau hidup ? lebih penting lagi adalah sebermakna apa kau pernah hidup. Tak peduli kau hidup hanya sehari, jika kau menjalaninya dengan baik…sehari itu pun sudah cukup. Meninggalkan dunia dengan kesan terbaik untuk orang-orang tersayang, dan yang lebih penting adalah pergi dengan membawa tabungan yang bisa menyelamatkan kita dari siksa kubur dan siksa neraka.
Well, ini nasehat untuk diriku sendiri. Hari ini aku masih bernafas, dan masih diberikan kesempatan untuk tidak ceroboh menunda-nunda amal sholeh. Bagaimanapun juga, di akhirat sana kelak tidak akan ada sepak bola ! jadi kenapa tetap saja tak menghiraukan kumandang adzan ketika menonton tim sepak bola idola ? kawan, mari berhati-hati dengan kesempatan hidup yang Ia beri ! Sukailah apa-apa yang boleh secara wajar, karena dunia adalah ladang menanam bekal ke akherat…maka, semoga kita tak kan pernah terlena.

Manusia-manusia yang Tak Mudah Kupahami

ya Allah,
kenapa ada orang-orang munafik dibumi ini ?
yang bermain-main dengan shalat mereka ?
yang punya kepribadian-kepribadian tak hanya satu ?
ya Allah,
kenapa orang-orang seperti itu bisa terlampau percaya diri ?
sok keren karena jabatan mereka,
sok bisa mengatur segalanya dengan uang,
sok gagah dengan kekuasaan mereka,
sok bergaya dengan cara memandang orang lain seperti itu…
padahal, apalah mereka ?

ya Allah, kedewasaan hamba yang minimalis ini,
selalu membuat pikiran hamba rusuh ketika mencoba
untuk memahami itu semua…

ini curhatan lebay ? atau apalah…

Budaya Hidup Bersih, Sayang….

Waktu itu aku melintas di depan bekas SD ku dulu. Sekarang bangunan nya bagus, dan ada bangunan tambahan, sebuah perpustakaan yang tampak baru. Di dalam pagar, semua terlihat bersih dan rapi. Halaman yang dulu selalu becek ketika musim penghujan, sekarang sudah dibangun lantai beton. Tapi seketika hati menjadi trenyuh saat mata tertuju pada rerumputan hijau (yang harusnya indah) di sekeliling luar pagar. Begitu juga sungai kecil yang melintasinya. Begitu banyak sampah berserak. Bungkus-bungkus bekas jajanan murid-murid.

Padahal seingat-ku, dulu ada salah satu bab di pelajaran PPKn (dulu PMP) yang mengajarkan hidup bersih, serta menjaga kelestarian hidup sekitar. Juga ada pelajaran Penjaskes. Bahkan gambar seorang anak kecil sedang menyapu itu masih kuingat hingga kini. Lagi, dulu juga ada piket. Murid-murid diajarkan menyapu lantai yang kotor dan menghapus papan tulis sesuai jadwal piketnya.

Budaya hidup bersih seharusnya sudah ditanamkan pada jiwa anak-anak semenjak kecil. Baik guru dan orang tua harusnya menyadari itu. Minimal guru. Karena guru adalah pendidik yang mengerti sistem dan cara mengajar yang seharusnya. Bagaimanalah jika orang tua sang anak juga jorok, tak ada lagi yang bisa diharapkan kecuali sang anak juga akan sama tak peduli nya dengan membuang sampah tidak pada tempatnya.

Bahkan di suatu tempat wisata saya sendiri pernah menyaksikan. Seorang ayah secara sembarangan melemparkan sampah bungkus makanan dan botol minuman ke sungai ketika sang anak bertanya “Ayah, ini dibuang kemana ?”. Cobalah lihat, anak sekecil itu yang mungkin usianya baru sekitar 6 tahunan..menerima pemahaman dari kejadian tersebut. Dan pemahaman itu akan di bawanya sampai dewasa : “Bahwa tak mengapa membuang sampah secara sembarangan, karena itu bukan kejahatan…toh tak akan ada yang protes pula”

Anak kecil, di tangan mereka selalu terdapat janji kehidupan yang lebih baik. Mari kita sebagai orang dewasa yang paham akan hal ini, memberikan pemahaman yang baik bagi mereka. Budaya tercipta secara sinergis dan turun temurun. Anak- anak adalah aset utama dari penciptaan budaya. Dari anak-anak kita memulainya. Kita yang sedikit ini mengajarkan pada mereka, melalui teladan yang baik. Menghargai sesama, menghargai sekitar, menjaga kebersihan, tertib mengantri, itu semua tak sulit. Itu semua mudah dilakukan.

Bukankah kita sudah lelah dengan kesemerawutan negeri ini ? dimana masyarakatnya hanya memiliki rasa peduli yang kecil. Bukankah kita selalu mempertanyakan, kenapa masyarakat di negeri ini lebih malu berbuat baik dibandingkan sebegitu percaya dirinya menyerobot hak orang lain di muka umum secara terang-terangan ? Tidak kah kita malu, pada orang-orang Jepang atau Eropa yang tak mengenal wudhu, tapi begitu disiplinnya untuk membuang sampah selalu pada tempatnya. Di negeri tempat orang-orang tak tahu arti kata”thaharah” itu, demi bertemu tempat sampah selesai turun dari bis , seorang anak kecil membuang sisa permen karet ke dalam tas nya sendiri….

Hidup bersih itu, sehat, indah dan rapi dipandang. Lingkungan yang semrawut menghasilkan orang-orang yang semrawut. Lingkungan yang kotor seirama dengan pikiran yang kotor. Tingkat kebersihan suatu lingkungan, berbanding lurus dengan tingkat keberadaban manusia yang tinggal di dalamnya. Semakin kotor, semakin bernilai estetika rendah, semakin tidak beradab !!!!!!!

Bukti Stabilitas Daya Beli Dinar dan Dirham Islam

Mungkin Kita bertanya apakah ada uang atau unit of account di zaman ini yang tidak terpengaruh oleh inflasi ?, jawabnya ada yaitu mata uang yang memiliki nilai intrinsik yang sama dengan nilai nominalnya yaitu mata uang yang berupa emas dan perak atau dalam khasanah Islam disebut sebagai Dinar dan Dirham.

Mungkin pertanyaan Kita selanjutnya adalah apa benar emas dan perak atau Dinar dan Dirham tidak terpengaruh oleh inflasi atau daya belinya memang tetap sepanjang zaman ?, untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan uraian yang agak panjang sebagai berikut :

Beberapa bukti sejarah yang sangat bisa diandalkan karena diungkapkan dalam al-Qur’an dan Hadits dapat kita pakai untuk menguatkan teori bahwa harga emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang tetap, sedangkan mata uang lain yang tidak memiliki nilai intrinsik terus mengalami penurunan daya beli (terjadi inflasi).

Dalam Al-Qur’an yang agung, Allah berfirman :
“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ”Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita tinggal (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu tinggal (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun”. (Al-Kahf 019)

Di ayat tersebut diatas diungkapkan bahwa mereka meminta salah satu rekannya untuk membeli makanan di kota dengan uang peraknya. Tidak dijelaskan jumlahnya, tetapi yang jelas uang perak. Kalau kita asumsikan para pemuda tersebut membawa 2-3 keping uang perak saja, maka ini konversinya ke nilai Rupiah sekarang akan berkisar Rp 100,000. Dengan uang perak yang sama sekarang (1 Dirham sekarang sekitar Rp 33,900) kita dapat membeli makanan untuk beberapa orang. Jadi setelah lebih kurang 18 abad, daya beli uang perak relatif sama. Coba bandingkan dengan Rupiah, tahun 70-an akhir sebagai anak SMA yang kos saya bisa makan satu bulan dengan uang Rp 10,000,-. Apakah sekarang ada anak kos yang bisa makan satu bulan dengan uang hanya Rp 10,000 ? jawabannya tentu tidak. Jadi hanya dalam tempo kurang dari 30 tahun saja uang kertas kita sudah amat sangat jauh perbedaan nilai atau kemampuan daya belinya.

Mengenai daya beli uang emas Dinar dapat kita lihat dari Hadits berikut :

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. SeKitainya ‘Urwah membeli debupun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)

Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa harga pasaran kambing yang wajar di zaman Rasulullah, SAW adalah satu Dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang sangat adil, tentu beliau tidak akan menyuruh ‘Urwah membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebihan. Fakta kedua adalah ketika ‘Urwah menjual salah satu kambing yang dibelinya, ia pun menjual dengan harga satu Dinar. Memang sebelumnya ‘Urwah berhasil membeli dua kambing dengan harga satu Dinar, ini karena kepandaian beliau berdagang sehingga ia dalam hadits tersebut didoakan secara khusus oleh Rasulullah, SAW.

Diriwayat lain ada yang mengungkapkan harga kambing sampai 2 Dinar, hal ini mungkin-mungkin saja karena di pasar kambing manapun selalu ada kambing yang kecil, sedang dan besar. Nah kalau kita anggap harga kambing yang sedang adalah satu Dinar, yang kecil setengah Dinar dan yang besar dua Dinar pada zaman Rasulullah SAW maka sekarangpun dengan ½ sampai 2 Dinar (1 Dinar pada saat menulis artikel ini = Rp 1,849,742) kita bisa membeli kambing dimanapun di seluruh dunia – artinya setelah lebih dari 14 abad daya beli Dinar tetap. Coba bandingkan dengan Rupiah kita. Pada waktu saya SD (awal 70-an) bapak saya membelikan saya kambing untuk digembala sepulang sekolah, harga kambing saat itu berkisar Rp 8,000. Nah sekarang setelah 35 tahun apakah kita bisa membeli kambing yang terkecil sekalipunpun dengan Rp 8,000 ? tentu tidak. Bahkan ayam-pun tidak bisa dibeli dengan harga Rp 8,000 !.

Untuk mengetahui tentang Dinar dan Dirham lebih lanjut, dan alasan kenapa keduanya adalah pilihan investasi yang paling tepat, kunjungi situs gerai dinar.