Arsip untuk April, 2008|Halaman arsip bulanan
1
Dari kota mana,
Kau melihat bulan yang sama sempurna,
Bercahaya,
menjelmakan gubuk-gubuk reot,
Seakan berdinding marmer bagai sebuah istana.
Mungkin di dalam kastil yang tersembunyi.
Kau bisa mendengar suara
kehenginan seperti
tak berpenghuni.
Disaat dahan demi dahan di seluruh penjuru arah mata angin,
berbeda nasib oleh musim,
serta bergantian menghibur helai daun dengan tak abadi.
Bersemi, berguguran, terinjak !
keceriaan yang mudah terusir
awan hitam yang mendekat …
Kalau begini, siapa yang tak mau ?
Jika dalam Alchemist-nya Coelho mengatakan bahwa suatu yang kebetulan itu terjadi karena kinerja alam, aku mengatakan itu karena Allah Maha Besar.
Jika di Film Just My Luck suatu keberuntungan adalah bakat yang memang sudah menjadi milik manusia semenjak lahir, aku berpikir bahwa keberuntungan adalah pertolonganNya yang selalu tak terduga.
Dan entah sudah berapa kali aku selalu tertolong oleh kebesaranNya.
Ada saja, ketika aku yakin bahwa penolongku hanya Ia semata …. Yakin bahwa Ia tak kan pernah menyia-nyiakan hambaNya.
Teringat firmanNya :
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” (QS. Al-Baqarah [2] : 261).
Bisa dibilang, Itulah alasan, logika dari kejadian yang bernama “kebetulan” dan “keberuntungan”
Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Jelasnya, Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat.
Kalau begini, siapa yang tak mau ?
Masih tak percaya ?
Tinggalkan sebuah Komentar
Tinggalkan sebuah Komentar

