Budaya Hidup Bersih, Sayang….

Waktu itu aku melintas di depan bekas SD ku dulu. Sekarang bangunan nya bagus, dan ada bangunan tambahan, sebuah perpustakaan yang tampak baru. Di dalam pagar, semua terlihat bersih dan rapi. Halaman yang dulu selalu becek ketika musim penghujan, sekarang sudah dibangun lantai beton. Tapi seketika hati menjadi trenyuh saat mata tertuju pada rerumputan hijau (yang harusnya indah) di sekeliling luar pagar. Begitu juga sungai kecil yang melintasinya. Begitu banyak sampah berserak. Bungkus-bungkus bekas jajanan murid-murid.

Padahal seingat-ku, dulu ada salah satu bab di pelajaran PPKn (dulu PMP) yang mengajarkan hidup bersih, serta menjaga kelestarian hidup sekitar. Juga ada pelajaran Penjaskes. Bahkan gambar seorang anak kecil sedang menyapu itu masih kuingat hingga kini. Lagi, dulu juga ada piket. Murid-murid diajarkan menyapu lantai yang kotor dan menghapus papan tulis sesuai jadwal piketnya.

Budaya hidup bersih seharusnya sudah ditanamkan pada jiwa anak-anak semenjak kecil. Baik guru dan orang tua harusnya menyadari itu. Minimal guru. Karena guru adalah pendidik yang mengerti sistem dan cara mengajar yang seharusnya. Bagaimanalah jika orang tua sang anak juga jorok, tak ada lagi yang bisa diharapkan kecuali sang anak juga akan sama tak peduli nya dengan membuang sampah tidak pada tempatnya.

Bahkan di suatu tempat wisata saya sendiri pernah menyaksikan. Seorang ayah secara sembarangan melemparkan sampah bungkus makanan dan botol minuman ke sungai ketika sang anak bertanya “Ayah, ini dibuang kemana ?”. Cobalah lihat, anak sekecil itu yang mungkin usianya baru sekitar 6 tahunan..menerima pemahaman dari kejadian tersebut. Dan pemahaman itu akan di bawanya sampai dewasa : “Bahwa tak mengapa membuang sampah secara sembarangan, karena itu bukan kejahatan…toh tak akan ada yang protes pula”

Anak kecil, di tangan mereka selalu terdapat janji kehidupan yang lebih baik. Mari kita sebagai orang dewasa yang paham akan hal ini, memberikan pemahaman yang baik bagi mereka. Budaya tercipta secara sinergis dan turun temurun. Anak- anak adalah aset utama dari penciptaan budaya. Dari anak-anak kita memulainya. Kita yang sedikit ini mengajarkan pada mereka, melalui teladan yang baik. Menghargai sesama, menghargai sekitar, menjaga kebersihan, tertib mengantri, itu semua tak sulit. Itu semua mudah dilakukan.

Bukankah kita sudah lelah dengan kesemerawutan negeri ini ? dimana masyarakatnya hanya memiliki rasa peduli yang kecil. Bukankah kita selalu mempertanyakan, kenapa masyarakat di negeri ini lebih malu berbuat baik dibandingkan sebegitu percaya dirinya menyerobot hak orang lain di muka umum secara terang-terangan ? Tidak kah kita malu, pada orang-orang Jepang atau Eropa yang tak mengenal wudhu, tapi begitu disiplinnya untuk membuang sampah selalu pada tempatnya. Di negeri tempat orang-orang tak tahu arti kata”thaharah” itu, demi bertemu tempat sampah selesai turun dari bis , seorang anak kecil membuang sisa permen karet ke dalam tas nya sendiri….

Hidup bersih itu, sehat, indah dan rapi dipandang. Lingkungan yang semrawut menghasilkan orang-orang yang semrawut. Lingkungan yang kotor seirama dengan pikiran yang kotor. Tingkat kebersihan suatu lingkungan, berbanding lurus dengan tingkat keberadaban manusia yang tinggal di dalamnya. Semakin kotor, semakin bernilai estetika rendah, semakin tidak beradab !!!!!!!

One Response to Budaya Hidup Bersih, Sayang….

  1. Sedih kalau melihat ada orang yang membuang tisu, bungkus permen, atau sampah lainnya dari dalam mobil. Dilempar begitu saja, weerrr… ke jalan sambil melaju. Padahal, mobilnya bagus. Logikanya, yang naik mobil tentu bisa bersekolah. Masak sih cara membuang sampah saja tidak bisa? Inilah problem kita bersama. Makasih atas tulisan yang penting ini. Sebab, saya juga sangat perhatian dengan kebersihan. Salam kenal ya…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s